![]() |
| Sumber gambar: ini |
Alkisah di sebuah kebun sayur mayur dan bunga milik Pak Momo, hiduplah seekor semut bernama Mimi.
Mimi adalah seekor semut hitam yang membuat sarang di batang kayu yang telah mati.
Setiap hari Mimi selalu rajin bekerja, mengumpulkan makanan sedikit demi sedikit.
Makanan kesukaan Mimi adalah biji bunga matahari. Setiap pagi Mimi keluar dari sarangnya dan mencari biji yang terjatuh di tanah. Jika biji tersebut cukup besar sehingga tidak dapat masuk ke sarangnya, ia akan memotong biji tersebut ke dalam butiran kecil-kecil dan mengangkutnya satu per satu.
Mimi memiliki tetangga bernama Tiko si tikus. Berbeda dengan Mimi yang sangat rajin mengumpulkan makanan, Tiko justru sebaliknya.
Tiko sering menertawakan Mimi yang dianggapnya terlalu rajin dan tidak menikmati hidup.
Bagi Tiko untuk apa harus bersusah payah mengumpulkan makanan dalam sarang, jika setiap perut lapar makanan sudah tersedia di kebun dan tinggal diambil.
Ya, Tiko juga makan biji-bijian seperti Mimi, tapi dia malas jika harus mengumpulkan sedikit demi sedikit. Tiko lebih suka makan langsung di tempat biji tersebut terjatuh.
“Mi, mengapa setiap hari kamu sibuk mengumpulkan makanan, apa tidak ada kerjaan lain??” begitu tanya Tiko suatu hari kepada Mimi.
Mimi hanya tersenyum mendengar pertanyaan Tiko yang seolah mengejeknya.
"Aku hanya berjaga-jaga saja Tiko, kita kan tidak tahu keadaan di masa yang akan datang.” Begitu jawabnya pada Tiko
“Haduh Mimi.... kenapa pusing-pusing memikirkan masa depan yang tidak pasti!...Coba kamu lihat, di kebun pak Momo ini, makanan melimpah ruah, kalau kita lapar tinggal ambil saja, tidak perlu bersusah payah sepertimu".
Mimi lagi-lagi menjawab pertanyaan Tiko dengan senyuman.. “Alhamdulillah, Allah sudah memberikan kita nikmat makanan yang melimpah ruah, aku hanya tidak ingin rakus.. setengah aku makan, dan setengahnya lagi aku simpan sebagai persediaan.”
“Ahhh, malas aku mengobrol denganmu, lebih baik aku bermain saja".. pungkas Tiko
Tiko pun pergi meninggalkan Mimi, yang kemudian melanjutkan pekerjaannya, mengumpulkan biji-bijian.
Pada suatu hari, tiba-tiba salju turun dengan lebatnya.
Butiran salju yang putih bersih memenuhi kebun pak Momo, sehingga tanah tidak lagi terlihat merah kecoklatan, melainkan berwarna putih, tertutup salju yang sangat tebal.
Bunga Matahari pun menjadi layu dan mati karena tidak mendapatkan cahaya matahari.
**********
Mimi sedang asyik duduk di sarangnya yang hangat, sembari minum teh dan makan biji bunga matahari favoritnya, saat terdengar pintu rumahnya diketuk.
Tok tok, “Assalamu'alaikum Mimi” ujar suara dari luar sarangnya.
“Wa'alaikumsalam, tunggu sebentar ya, aku buka dulu pintunya.” Jawab Mimi sembari membuka gagang pintu.
Ternyata yang bertamu adalah Tiko si tikus, ia tampak kedinginan dan kelaparan.
“Mimi..bolehkah aku masuk?” pinta Tiko
“Tentu saja boleh, masuklah Tiko.”
Setelah Tiko masuk ke sarang Mimi ia berkata, “Mi, aku lapar, bolehkah aku minta sedikit biji-bijian simpananmu?”
“Tentu saja boleh, tunggu sebentar ya, kuambilkan dulu.” Jawab Mimi sembari mengambilnya ke gudang.
Setelah itu, Mimi memberikan sekantung penuh biji bunga matahari kepada Tiko.
“Ini Tiko, ambillah, semoga kamu tidak kelaparan lagi ya....” ujar Mimi.
“Te..terimakasih banyak ya Mimi, maafkan aku karena selama ini sering mengejekmu, ternyata kamu benar, kita harus berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan.”
“Aku menyesal karena dulu sangat sombong dan tidak mau mengumpulkan makanan, akhirnya saat musim salju seperti ini, aku kelaparan karena tidak ada biji bunga matahari.” lanjut Tiko
“Tidak apa-apa Tiko, aku sudah memaafkanmu.. yuk, sekarang kita makan bareng".
-Tamat-

0 komentar:
Posting Komentar