![]() |
| Sumber gambar & keterangan lisensi : ini |
Lang-lang adalah seekor anak burung elang Jawa, ayahnya bernama Lilang, dan ibunya bernama Lala.
Elang Jawa atau Nisaetus Bartelsi dalam nama latinnya adalah spesies burung elang yang tinggal di pulau Jawa.
Mereka hidup di hutan tropis yang hijau, seperti keluarga pak Lilang ini.
Lang-lang dan keluarganya adalah hewan karnivora atau pemakan daging. Makanan favoritnya adalah ular yang hidup di sekitar tempat tinggal mereka.
Setiap pagi ayah Lilang selalu pergi berburu untuk mencari ular. Lang-lang ingin sekali ikut ayahnya pergi berburu, namun ia belum bisa terbang.
Suatu pagi, ayah berkata sesuatu hal yang membuat ia gembira.
“Lang-lang, engkau kini semakin besar, sayapmu semakin besar, sudah saatnya ayah mengajarkanmu untuk bisa terbang.”
“Besok siang setelah pulang berburu, ayah akan melatihmu, jadi bersiaplah.” Lanjut ayah.
“Asyiiik...akhirnya aku belajar terbang....” sorak Lang-lang.
Ia memang sudah lama menunggu saat ini tiba, berulangkali ia menanyakan kepada sang ayah, kapan ia diajarkan terbang.
Ayahnya selalu menjawab “Nanti ada saatnya Lang-lang, ketika sayapmu sudah kuat, itulah tandanya kau siap untuk menjelajah dunia.”
Mendengar jawaban sang ayah, Lang-lang bersabar menunggu saat itu tiba.
Malam itu Lang-lang tidak dapat tidur, ia menantikan esok hari tiba, tak sabar rasanya untuk merentangkan sayap dan terbang tinggi menjelajah angkasa.
“Tidurlah Lang-lang, besok kau membutuhkan tenaga untuk belajar terbang” nasihat ibu sembari tersenyum melihat anaknya yang terlihat sangat antusias.
“baik bu"
Malam itu Lang-lang bermimpi, ia terbang tinggi menjelajah angkasa yang luas terbentang, betapa indahnya pemandangan yang terlihat dibawahnya..ia merasa seperti...penguasa angkasa..
Esok paginya, Lang-lang bangun pagi sekali, tak sabar ia menunggu ayahnya pulang berburu.
Akhirnya sosok yang dinanti tiba, sesuai janji, ayahnya mengajak ke sebuah pohon yang tidak terlalu tinggi di sebelah sarangnya untuk belajar terbang.
“Nah, Lang-lang, ini adalah pelajaran pertamamu untuk terbang..pesan ayah, jangan pernah menyerah, coba terus hingga bisa.”
“Sekarang rentangkan sayapmu, tegak lurus seperti ini.” Ujar ayah mencontohkan
Lang-lang pun mengikuti intruksi sang ayah
“Sekarang tatap lurus ke depan, terbangkan sayapmu, rasakan angin sebagai pemacu dirimu untuk naik..tinggi..dan lebih tinggi.” Instruksi ayah sambil terbang
Lang-lang pun mengikuti instruksi sang ayah, namun naas, bukannya terbang ke atas, ia justru meluncur ke bawah.
“rentangkan sayapmu Lang, gerakkan searah angin ke atas!!!" Teriak ayah dari atas pohon.
Lang-lang mengikuti instruksi sang ayah, namun ia tidak dapat mengendalikan sayapnya, dan akhirnya...buk...ia terjatuh menimpa semak-semak rimbun di bawah pohon yang mereka pakai untuk latihan.
“Lang, kau tidak apa-apa nak??” Tanya ayah khawatir.
“Sepertinya, sayapku agak terkilir yah.” Jawab Lang-lang sambil meringis kesakitan.
“Baiklah tidak apa-apa, kita istirahat dulu sampai sayapmu membaik.” Ujar ayah.
Merekapun kembali ke sarang, sang ibu segera mengompres sayap Lang-lang dengan air hangat.
“Bagaimana, sudah lebih baik rasanya??” Tanya ibu
“Alhamdulillah sudah ibu, terimakasih ya.”
“Saat belajar terbang dulu, yaa..seperti usiamu sekarang, ibu beberapa kali terjatuh, bahkan salah satu sayap ibu ada yang robek. Kakekkmu sangat khawatir dan hendak menunda proses belajar terbang ibu..namun ibu tidak menyerah, ibu yakin sebentar lagi ibu pasti bisa terbang.” Cerita ibu menyemangati Lang-lang
Ayah yang mendengar cerita ibu tersenyum menimpali, iya, terjatuh saat belajar terbang itu biasa, yang terpenting kita tidak menyerah.
“Baik ayah, aku tidak akan menyerah..” semangat Lang-lang.
“Nah begitu dong, itu namanya anak ayah..Elang Jawa sejati..” Puji ayah.
Keesokan harinya, Lang-lang kembali berlatih..tapi lagi-lagi kejadian yang sama terjadi, ia selalu terjatuh dan terjatuh..
Seminggu sudah Lang-lang Belajar terbang, tidak ada kemajuan sama sekali..yang ada kedua sayapnya terasa sakit karena sering terjatuh dan tergores dahan atau semak belukar.
Lang-lang menjadi sedih, ia mengurung diri di kamarnya..panggilan dan nasihat ayah serta ibunya tidak dihiraukannya sama sekali.
“Kenapa sulit sekali terbang??”
“Jangan-jangan aku memang tidak bisa terbang?”
Begitu kata hatinya setiap hari, dan itu membuatnya semakin murung.
Suatu pagi, terdengar suara Lili, tetangga sebelah rumahnya, seekor elang jawa juga berteriak panik
“Tolong...tolong”... teriak Lili panik..
“Ternyata ada seekor ular besar yang hendak memangsanya, Lili adalah seekor bayi elang yang juga belum bisa terbang seperti dirinya.
Ayah dan ibu Lili sedang berburu sehingga Lili ditinggalkan sendirian di sarang.
Tanpa pikir panjang, Lang-lang merentangkan sayapnya dan
WUUUUSHHHH
WUUUUSHHHH
Secepat kilat ia terbang menyambar Lili, tepat saat mulut si ular membuka hendak memangsanya.
Tak Lama kemudian Lolo, ayah Lili datang, ia pun mencengkeram ular tersebut kuat-kuat dan membawanya pergi jauh.
“Terimakasih ya Lang-lang, kalau tidak ada kamu, aduh..entah bagaimana nasib Lili” ujar Lila ibunda Lili sambil memeluk Lili yang masih gemetaran.
Ayah dan ibu Lang-lang sangat bangga pada anak mereka yang pemberani, dan terlebih dari itu.
Lang-lang kini sudah bisa terbang.
-tamat-

Intinya, belajar tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain.
BalasHapus