Searching...
Selasa, 26 Juni 2018
Juni 26, 2018

Ceritaku Di Commuter Line

Kali ini saya mau menulis cerita based on true story, pengalaman sehari-hari menjadi RoKer alias Rombongan Kereta saat masih berstatus sebagai ibu di ranah publik

#CeritaDiCommuterLine

Seperti biasa, kakiku berlari mengejar kereta, olahraga rutin yang kulakukan setiap pagi agar tidak terlambat masuk kerja.

"Teng tong teng tong...teng tong teng tong"
"Kereta jurusan Tanah Abang akan segera tiba di jalur satu, para penumpang harap bersiap di peron 1."

Kupercepat langkahku, tapping di depan pintu masuk.. untung aku selalu rutin mengisi saldo kartu uang elektronikku sehingga tidak direpotkan untuk mengisinya setiap pagi..

Alhamdulillah masih keburu, tepat setelah aku menyebrang peron, kereta sampai..padat seperti biasa..

Dalam hitungan sepersekian menit terjadi kericuhan, "haduh jangan dorong-dorong dong" teriak beberapa wanita, entah siapa.. Aku memang sengaja memilih gerbong wanita, meskipun banyak yang bilang gerbong wanita lebih "horor" dibanding gerbong campuran, tapi aku tetap memilihnya "lebih tenang dan nyaman batinku".

Aku memilih untuk menunggu semua penumpang masuk, lalu mencari celah dimana aku "masih" bisa berdiri.. bagiku, selama kaki masih bisa berpijak di kereta berarti masih ada tempat.

Aku tak suka mendorong, apalagi didorong..lebih memilih bersabar, walaupun pada kenyataannya jarang demikian.. Commuter Line pagi hari adalah transportasi umum yang menjadi favorit banyak manusia urban.

Lokasi kantorku yang berada di salah satu segitiga emas pusat bisnis Jakarta memaksaku memilih kereta menjadi angkutan tercepat tanpa macet dan murah meriah tentunya.

Setelah semua naik, kulihat sedikit celah pada sebuah pintu, lalu akupun naik, dengan sedikit geser dan dorong tentunya. Tepat setelahnya pintu keretapun ditutup, pas sekali posisiku didepan pintu.

Kereta melaju dengan kecepatan sekitar 60 Km/jam, beberapa kali seperti terasa bergoyang-goyang karena jalur kereta ini membelok.

Sengaja kupilih posisi dekat pintu agar lebih stabil, karena aku tahu jika ditengah apalagi pas di posisi roda, goyangan akan sangat terasa.. dapatkah kamu membayangkannya "ditengah jubelan manusia, bergoyang tanpa arah mengikuti putaran roda kereta"

Tak jarang terdengar teriakan

 "Aduh, jangan dorong-dorong dong",

"Pegangan dong, ditahan jangan jatuh-jatuh."

Teriakan terakhir biasanya keluar dari lisan para penumpang yang berdiri didepan penumpang yang duduk karena mereka harus menahan beban dorongan manusia di belakangnya agar tidak jatuh ke depan dengan kaki tertahan oleh kursi. Posisi yang benar-benar tidak menyenangkan, aku pernah soalnya, dan memilih menghindarinya.

Teriakan-teriakan tersebut berulangkali hadir, apalagi jika penumpang sudah sangat penuh akibat kereta yang terlambat..duh, jangan dibayangkan kericuhannya.

Tanah Abang merupakan stasiun ketiga dari tempatku naik, jadi ada dua stasiun sebelumnya.

Setiap berhenti di stasiun, akupun ikut turun. Bukan apa-apa, hanya untuk memudahkan penumpang yang hendak turun.

Tak jarang senggal-senggol, dorong-dorongan pun terjadi, teriakan "Turun dulu dong, susah nih" menjadi hal yang lumrah karena banyak penumpang yang memilih tetap diam di tempatnya, padahal posisi mereka menghalangi yang hendak turun.

Ah, mungkin mereka hanya mempertahankan "posisi" karena enggan berebut naik dengan penumpang di stasiun itu yang baru mau naik dan kami yang mengalah untuk memberi jalan.

Akhirnya tibalah di Stasiun Tanah Abang, kubersiap turun, apalagi kereta selanjutnya yang akan membawaku ke Stasiun Sudirman sudah datang.

Setelah pintu terbuka, kumemacu langkah secepatnya, menaiki tangga berebut dengan penumpang lainnya. Karena hanya dalam hitungan menit kereta itu menunggu.. Jika tak bisa naik, aku harus menunggu kereta selanjutnya yang masih jauh.

"Kereta tujuan Bogor akan segera berangkat, para penumpang harap masuk"... Segera kupercepat langkahku menjadi lari cepat menuruni tangga.

Ketika sampai depan pintu salah satu gerbong campuran terdekat dengan tangga turun, aku memutuskan untuk naik karena pintu hendak ditutup

Tiba-tiba ada suara arogan, seorang penumpang lelaki yang berkata "udah penuh, naik yang lain aja" padahal dengan mataku kumelihat masih lengang, hanya ia tak mau bergeser.

Kutatap dirinya dan berkata "pak, kalau mau nyaman naik mobil pribadi aja". Dan setelahnya pintu pun tertutup tanpa membawa diriku yang mematung di depan peron dan berfikir "kereta adalah angkutan umum, semua orang boleh naik, semua ingin cepat-cepat.,, belajar simpati, saling membantu dan memudahkan bukan menyulitkan, apalagi jika kereta cukup lengang.

Pagi itu aku merasa kesal, dan berjanji pada diri sendiri agar tidak egois.. karena kereta adalah transportasi umum bukan milik pribadi.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Back to top!