![]() |
| Source : ini |
Seorang konsumen ojek makanan online tempatku bernaung memesan sayur asem dan pecak gurame di sebuah restoran khas Betawi yang terkenal enak itu. Kutelepon (calon) konsumenku, memastikan apakah ia memesan makanan sesuai dengan aplikasi di gawaiku.
“Iya pak, sesuai aplikasi ya, makasih.” begitu ujarnya. Alhamdulillah, sepertinya konsumenku kali ini orangnya cukup sopan, memanggilku dengan sebutan “pak” dan mengucapkan “terimakasih”, kata yang kadang sering lupa diucapkan oleh konsumenku yang lain.
Segera kuarahkan motorku ke rumah makan itu, untung tak terlalu jauh.. hanya sekitar 500 meter di depan sana. Kulirik penanda bensin motorku yang tinggal satu, nanti saja kuisi bensinnya selesai mengantar makanan, semoga masih cukup.
Seperti biasa, aku masuk dan memesan makanan.. duh ramainya, maklum jam makan siang dan lokasinya dekat dengan pusat perkantoran, jadi saat makan siang penuh dengan karyawan karyawati berbaju rapi yang makan disana.
Perutku berbunyi keroncongan mencium bau harum masakannya yang menggugah selera, kepengen beli juga, tapi apa daya, melihat harganya yang mahal bisa untuk makan keluargaku sehari, akhirnya kuurungkan niatku, nanti saja makan di warteg Bu Tini yang murah meriah.
Setelah memesan, aku mendapat total harga yang harus kubayar.. Seratus ribu rupiah, "Alhamdulillah, uangnya cukup, masih ada sisanya untuk membeli bensin."
Lalu aku menunggu di tempat yang disediakan untuk kami, para ojek online menunggu makanan siap. Disana kujumpai beberapa rekanku sesama ojek makanan yang juga sedang menunggu pesanan.
Merasa senasib sepenanggungan, membuat kami yang baru bertemu merasa dekat, ngobrol ngalor ngidul dari pesan apa, antar kemana, hingga membicarakan sejumlah poin yang harus kami kejar demi mendapat bonus.. Sesuatu yang kami perjuangkan mati-matian, karena kami bukan karyawan karyawati swasta ataupun PNS yang mendapat gaji tetap dan seabrek tunjangan dan fasilitas lainnya.
Semua harus kami perjuangkan sendiri, mengejar orderan demi sejumlah rupiah, dari pagi hingga malam kami melanglang buana ke seluruh penjuru kota.
Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya pesanan makananku eh maksudnya pesanan konsumenku siap. Saatnya mengantar ke rumahnya, menembus panas dan macetnya Jakarta.. Kota Metropolitan, tempat banyak jiwa tak terkecuali aku mengadu nasib, mencari peruntungan di kota ini.
Alhamdulillah nasibku masih beruntung, sempat merasakan bangku sekolah meskipun cuma sampai bangku SMP, aku dulu adalah ojek pangkalan, tetapi karena penumpang semakin lama semakin menghilang karena memilih menjadi penumpang ojek online, akhirnya aku beralih menjadi ojek online khusus makanan, meskipun aku mesti nabung dulu setahun untuk beli handphone canggih yang bisa internetan buat modalku mendapat penumpang.
Kustater motorku, sahabat setia selain gawai untuk mencari rezeki menghidupi keluargaku, istri dan anak-anakku yang amat kusayang, penyemangatku untuk menjalani kerasnya persaingan hidup demi selembar kertas bernamakan rupiah.
Kulihat aplikasi di gawaiku, kemana harus mengantar makanan ini.. Sepertinya aku tidak terlalu mengenal daerah itu, ah sudahlah, kuikuti saja penunjuk arah di aplikasiku.
Kuikuti petunjuk arah, sesekali bertanya kepada orang yang lewat karena daerah sini banyak area satu arahnya.
“Jalan Melati”, Alhamdulillah, akhirnya kutemukan juga nama jalan tempat konsumenku berada
“Jalan Melati No. 45B”..Perlahan kutelusuri rumah demi rumah, mencari alamat nomor 45..
“39...40..50..lho, nomor 41 sampai nomor 49-nya kemana ini, ujarku bingung..Kuambil Gawaiku, kutelepon nomor yang tertera di aplikasi, “Halo Bu, saya dari ojek online, mau tanya rumah ibu di sebelah mana ya?”, “Saya udah dirumah nomor 40.”
“Dari rumah nomor 40, bapak belok kiri ya pak, rumah saya ketiga di sebelah kiri, pagar putih, nanti saya tunggu diluar.” Begitu jawabnya, lalu sambungan pun diputus.
Segera kuikuti petunjuknya, akhirnya sampailah aku dirumah nomor 45B. Disana sudah menunggu konsumenku.
“Ini Bu pesanannya.”
“Makasih ya pak, ini buat bapak.” Sambil menyerahkan selembar uang tips dan air mineral kepadaku
“Makasih ya Bu",
“Iya pak, sama-sama.” Lalu ia masuk kembali ke dalam rumahnya.
Alhamdulillah, kali ini aku mendapatkan konsumen yang baik, kuteguk air mineral yang diberikan olehnya dan kutuntaskan kata selesai di aplikasi gawaiku.
“Tring..tring” .bunyi notifikasi pesanan selanjutnya kembali muncul di gawaiku
Segera kustater kembali motorku, menyelesaikan pesanan yang masuk dan pesanan-pesanan lainnya, karena aku adalah ojek online makanan yang mencari rupiah demi menghidupi keluargaku..

0 komentar:
Posting Komentar